INILAH
NEGARA TERCINTA KITA
1
Masalah Korupsi di Indonesia, Kita Harus Bagaimana ?
Korupsi di negeri kita tercinta Indonesia sepertinya sedah dalam tahap yang menghawatirkan, cotohnya bisa kita lihat pada kasus korupsi luar biasa besar seperti Century dan Hambalang. Para pelakunya pun tidak main main, bisa dibilang merekalah pejabat tertinggi di negara kita, dimana bisa dikatakan bahwa kemaslahatan dan kemakmuran negara kita tergantung pada mereka.
Semua pejabat pemerintahan seolah berlomba dan tidak mau kalah dalam kasus menggerogoti uang rakyat alias korupsi. Mulai dari pejabat papan atas indonesia semisal DPR dan Menteri sampai pada pejabat rendah tingkatan RT/RW. Para penegak hukum yang justru menindak pelaku kejahatan termasuk korupsi juga tidak mau kalah. Instansi seperti Polisi, TNI, Jaksa juga tersangkut masalah korupsi, bahkan kepolisian dinyatakan sebagai instansi paling korup di Indonesia baru baru ini. Lucunya lagi, hakim yang dianggap wakil tuhan di muka bumi ini malah kedapatan menerima suap dalam beberapa kasus besar di indonesia. sudah barang tentu terdapat banyak sekali pelanggaran HAM dalam kasus kasus korupsi besar di Indonesia. mengenai pelanggaran HAM dan upaya penegakannya seperti yang sudah saya jelaskan di blog saya ,memang tidak akan ada habisnya,banyak wacana mucul ke permukaan, yang paling umum adalah pendapat bahwa hukuman yang diberikan kurang mampu memberi efek jerah bagi para pelaku korupsi. Haduuuh, kalau dipikir pikir gak bakal ada habisnya deh . . .

ilustrasi korupsi
Kenapa para pelaku tidak jerah? Berapa hukuman yang diberikan atas
pelaku korupsi di negeri kita?Saya ambil contoh di China, disana mereka menghukum mati siapapun yang tersangkut kasus korupsi tanpa memandang status dan jabatan. Bahkan China bisa menghukum lebih dari 1000 koruptor setahun. Bayangkan ? ? ? apakah efektif hukuman mati bagi China, anda bisa lihat sendiri bagaimana China sekarang. mereka menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dunia. Semenjak China bebas dari Koruptor, kini mereka menikmati hasilnya, para pejabat yang tidak bermoral bakal berpikir 10x sebelum mereka melakukan korupsi Secara nyawa yang menjadi taruhannya. Negara yang hebat adalah negara yang sigap dan tanggap atas masalah yang menimpa negara tersebut. China tidak mau membiarkan masalah korupsi berlarut larut dan mendarah daging di negara mereka. Aksi nyata dan riil harus segera dilakukan. Begitu prinsip mereka.
Bagaimana dengan Indonesia ? jangankan hukuman mati, 5 tahun penjara + fasilitas mewah dan masih bisa keluar untuk jalan jalan lagi, itu udah bagus banget, bayangin coba ? kalau kayak gini hukum yang berlaku bagi para pelaku korupsi, saya juga berani korupsi ? siapa yang takut kalau sistem hukumnya kayak beginian ? toh harta yang mereka dapat dari korupsi masih lebih banyak dari pada uang yang mereka keluarkan untuk menyuap para polisi dan jaksa tidak bermoral.
Mungkin mereka biasa berdalih seperti ini : kami khilaf, kami Cuma manusia biasa, anda belum tentu bisa menahan godaan kalau jadi saya, saya lagi kepepet kebutuhan rumah tangga, saya tidak ada niatan begini, Saya dipaksa disuap sama dia, Bla bla bla dan seterusnya. Ya kalau mereka merasa tidak mampu, seharusnya dari awal mereka tidak mencalonkan diri sebagai pejabat. Menjadi pejabat pemerintahan menanggung kemaslahatan hidup banyak orang, untuk kasus indonesia mereka memikul nasib 400 juta lebih manusia.
Sesungguhnya jika mereka beriman , mereka para pemimpin bakal dimintai pertanggung jawaban atas apa saja yang mereka lakukan sebagai pemimpin di negeri ini, negeri kita tercinta Indonesia. Balik lagi kalau seorang pemimpin tidak hanya harus pintar, namun harus memiliki kesadaran dan hati nurani yang tinggi, mereka harus mengerti akidah agama dan nilai nilai kemanusiaan. Susah memang, bahkan untuk masa masa ini saya kira korupsi masih merajarela dan bakal susah diatasi . . .
Balik lagi bahwa Hukuman mati menjadi solusinya, Semoga korupsi di Indonesia segera bisa teratasi secepatnya . . .
2
Sejarah Freeport ( gunung emas yang dirampok secara terbuka )
Juli 10, 2013
1 Vote
pewarisnya.
Soekarno bersikap, “Biarkan kekayaan alam kita, hingga insinyur-insinyur
Indonesia mampu mengolahnya sendiri.” Sedangkan Harto dan para pewarisnya
hingga sekarang bersikap, “Biarkan kekayaan alam kita dijarah oleh orang-orang
asing, silakan Mister…”Merupakan fakta sejarah jika di awal kekuasaan Harto, kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah digadaikan kepada blok imperialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Sebelumnya Harto dan Washington agaknya telah memiliki “MOU” bahwa jika Soekarno berhasil dikudeta maka Harto yang menggantikannya akan “membalas budi” kepada Washington berupa penyerahan negara dan bangsa ini tanpa syarat agar bisa dieksploitasi sepuasnya oleh para tuan bule di Washington.
Tragedi pertemuan Mafia Berkeley dengan Rockefeller dan kawan-kawannya di Jenewa-Swiss di bulan November 1967 menjadi bukti tak terbantahkan tentang permufakatan iblis tersebut. Di saat itulah, rezim Jenderal Harto mencabut kemerdekaan negeri ini dan menjadikan Indonesia kembali sebagai negeri terjajah. Ironisnya, penjajahan asing atas Indonesia diteruskan oleh semua pewarisnya termasuk rezim yang tengah berkuasa hari ini yang ternyata “jauh lebih edan” ketimbang Jenderal Harto dulu.
Sampai sekarang, hampir semua cabang produksi yang amat vital bagi negara dan bangsa ini telah dikuasai asing. Banyak buku yang telah memaparkan dengan jujur kenyataan menyedihkan ini. Beberapa di anaranya adalah buku berjudul “Di Bawah Cengkeraman Asing: Membongkar Akar Persoalannya dan Tawaran Revolusi untuk Menjadi Tuan di Negeri Sendiri” (Wawan Tunggul Alam: 2009), dan “Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!” (Amien Rais, 2008). Dengan bahasa jurnalisme yang sangat mengalir namun amat kaya data, Wawan memaparkan dengan lugas hampir seluruh fakta yang patut diketahui generasi muda bangsa ini, agar kita bisa sadar sesadar-sadarnya jika Indonesia itu, negeri kita ini, sekarang masih merupakan negeri terjajah!
Dan untuk buku yang kedua yang ditulis oleh Amien Rais, isinya benar-benar bagus dan sangat anti dengan neo-liberal. Namun dalam faktanya sangat ironis, karena entah dengan alasan apa, Amien Rais sekarang malah jelas-jelas menjadi bagian dari kelompok NeoLib dengan berterus-terang menyatakan dukungannya pada rezim yang berkuasa sekarang. Disadari atau tidak, dia sekarang telah menjadi part of problem bagi bangsa ini dan menjadi salah satu penghalang bagi gerakan pemerdekaan negeri ini dari cengkeraman imperialisme asing.
Jika Imperialisme dan Kolonialisme Kuno (Spanyol, Portugis, VOC, Fasis Jepang, dan NICA) menggunakan senjata api untuk menjajah suatu negeri, maka sekarang, Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme, Nekolim) lebih pintar dengan tidak lagi memakai senjata api namun mempergunakan kekuatan uang (baca: kekuatan utang).
JFK, CIA, dan Freeport
Di atas telah disebutkan, hanya beberapa bulan setelah secara de-facto berkuasa, Jenderal Harto menggadaikan nyaris seluruh kekayaan alam negeri ini kepada blok imperialisme asing. Salah satu cerita yang paling menyedihkan adalah tentang gunung emas di Papua Barat. Gunung emas yang sekarang secara salah kaprah disebut sebagai Tembagapura, merupakan sebuah gunung dimana cadangan tembaga dan emas berada di atas tanahnya, tersebar dan siap dipungut dalam radius yang amat luas.
Lisa Pease menulis artikel berjudul “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport” dan dimuat dalam majalah Probe. Tulisan bagus ini disimpan di dalam National Archive di Washington DC. Dalam artikelnya, Lisa Pease menulis jika dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.
Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada di sekujur Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.
Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Piminan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.
Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.
Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!
Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kenndey merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.
Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil siap yang bertolak-belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.
Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
Augustus C. Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.
Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital NY di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pimpinan Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.
Pease mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.
Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.
Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi 1 Oktober 1965, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengeksplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?
Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasionil mereka.
Sebab itulah, ketika ketika UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport. Inilah kali pertama kontrak perminyakan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia.
Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport menggandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.
Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A. Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki depost terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar.
Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar pon dan emas sebesar 52,1 juta ons. Nilai jualnya 77 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia.
Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru di mana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan langsung mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. “Perampokan legal” ini masih terjadi sampai sekarang.
Kisah Freeport merupakan salah
satu dari banyak sekali kisah sedih tentang bagaimana kekayaan alam yang
diberikan Allah SWT kepada bangsa Indonesia, oleh para penguasanya malah
digadaikan bulat-bulat untuk dirampok imperialisme asing, demi memperkaya diri,
keluarga, dan kelompoknya sendiri. Kenyataan memilukan ini masih berlangsung
sampai sekarang hingga rakyat menjadi sadar dan menumbangkan penguasa korup.
3
Budaya Indonesia tentunya berbeda dengan budaya luar
negeri. Kesenian dan kebudayaan Indonesia merupakan dua sisi mata uang
yang tidak terpisahkan. Kesenian dapat menjadi wadah untuk mempertahankan
identitas budaya Indonesia. Tapi faktanya, sekarang ini identitas budaya
Indonesia sudah mulai memudar karena arus global. Pengaruh dari luar telah membawa dampak terhadap masyarakat
Indonesia. Seiring berkembangnya
zaman, kebudayaan di Indonesia mulai luntur. Hal ini dikarenakan semakin
berkembangnya teknologi yang mempunyai dampak negatif terhadap kebudayaan
Indonesia. Dengan banyaknya media elektronik kebudayaan barat mulai mengubah
pola pikir masyarakat Indonesia. Karena pola pikir masyarakat Indonesia yang
masih rendah, mereka dengan mudah mengikuti budaya barat tanpa adanya filtrasi.
Sehingga mereka cenderung melupakan kebudayaanya sendiri.
Dalam konteks Indonesia, masyarakat
konsumen Indonesia mutakhir tumbuh beriringan dengan sejarah globalisasi
ekonomi dan transformasi kapitalisme konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya
pusat perbelanjaan bergaya seperti shopping mall, industri waktu luang,
industri mode atau fashion, industri kecantikan, industri nasihat, industri
gosip,kawasan huni mewah, apartemen, iklan barang-barang mewah dan merek asing,
makanan instan (fast food), serta reproduksi dan transfer gaya hidup melalui
iklan dan media televisi maupun cetak yang sudah sampai ke ruang-ruang kita
yang paling pribadi. Hal ini terjadi di banyak masyarakat perkotaan Indonesia.
Kini
Indonesia dihadapi dengan budaya yang menyimpang, menyimpang dari nilai-nilai
dasar, menyimpang dari prosedur atau pelajaran tertentu yang diperoleh dari
pengalaman.
Salah satu dari penyimpangan itu
misalnya, para pendiri sudah menggariskan nilai-nilai dasar yang super
fantastis luhurnya, seperti: kejujuran, tanggung jawab, peduli pelanggan, dan
lain-lain, tetapi prakteknya adalah ketidakjujuran, lari dari tanggung jawab
atau ketidakpedulian.
Pendeknya: lain di konsep, lain di
praktek.
Penyebab dari budaya yang menyimpang
adalah :
1. Kurang Keteladanan
2. Belum dijadikan
pemahaman bersama
3. Kurang tangkas
dalam menerapkan wewenang dan kekuasaan
Solusinya :
1. Semua penduduk
harus lebih mencintai budaya sendiri.
2. Kita perlu
mengkonsepkannya, menyatakannya dalam bentuk pedoman yang bisa dipahami orang
lain.
3. Membuka
fasilitas dan peluang pembelajaran.
4. Pemerintah harus
lebih memperhatikan perkembangan budaya kita.
5. Pemerintah harus segera membuatkan UU perlindungan untuk semua budaya kita.
5. Pemerintah harus segera membuatkan UU perlindungan untuk semua budaya kita.
4
Tahukah
Anda, Berapa Jumlah Utang dan Cicilan Utang Indonesia?
19 Juli 2011 pukul 17:59

Grafik Perkembangan Cicilan Hutang
Indonesia
Tahukah Anda, Berapa Jumlah Utang
dan Cicilan Utang Indonesia?
Tahukah Anda berapa jumlah utang
pemerintah Indonesia saat ini?. Menurut Buku Saku Perkembangan Utang Negara
Edisi Oktober 2010, jumlah seluruh utang pemerintah mencapai US$ 185,3 milyar.
Bila dirupiahkan dengan kurs Rp 9000/ US dollar, maka utang negara kita mencapai
Rp 1.667,70 trilyun. Jika dibagi jumlah penduduk Indonesia 237,556 juta
jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, maka setiap penduduk Indonesia
memikul utang negara sebesar Rp 7 juta.
Utang pemerintah tersebut terdiri
atas utang luar negeri dan utang dalam negeri. Utang dalam negeri merupakan
istilah yang digunakan untuk menyebut pinjaman pemerintah dalam bentuk surat
utang atau obligasi.
Meningkatnya utang pemerintah,
terutama sejak masuknya IMF pada era reformasi. Peningkatan tersebut didorong
oleh biaya BLBI dan paket rekapitalisasi perbankan yang menelan biaya pokok Rp
650 trilyun. Biaya ini atas perintah IMF diaktuaisasikan pemerintah dalam
bentuk Surat Utang Negara atau disebut juga obligasi rekap.
Selanjutnya, pemerintah menjadikan
instrumen surat utang untuk mendanai APBN. Sehingga jika sebelumnya pemerintah
hanya mengandalkan utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan APBN, maka
penjualan surat utang negara pun menjadi andalan utama pemerintah dalam
berutang.
Lalu, berapakah cicilan utang
Indonesia? Berdasarkan data dari Buku Saku Perkembangan Utang Negara Edisi
Oktober 2010, dalam APBN-P 2010 jumlah keseluruhan cicilan utang pemerintah
mencapai angka Rp230,33 trilyun. Cicilan tersebut terdiri atas cicilan pokok
sebesar Rp124,68 trilyun dan cicilan bunga Rp105,65 trilyun.
Proporsi anggaran pembayaran utang
mencapai 23,21% dari Rp992,4 trilyun penerimaan APBN dimana hampir setengahnya
atau 45,87% adalah pembayaran bunga utang pemerintah. Akibat besarnya jumlah
cicilan utang, APBN pun mengalami defisit sangat besar, yakni Rp133,75 trilyun.
Selama 11 tahun terakhir, negara
telah membayar utang sebesar Rp1.596,1 trilyun dan 54% di antaranya atau
sekitar Rp864,67 trilyun adalah untuk membayar bunga utang yang jatuh tempo.
Jumlah keseluruhan pembayaran utang pemerintah tersebut lebih dari 7,8 kali
penerimaan APBN 2000, 4,7 kali penerimaan APBN 2003, 2,5 kali penerimaan APBN
2006, dan 1,6 kali penerimaan APBN 2010. Jumlah ini juga hampir menyamai jumlah
utang negara tahun ini Rp1.667,7 trilyun. Sedangkan total pembayaran bunga
utang pemerintah lebih besar dari anggaran penerimaan pajak tahun ini Rp743,3
trilyun.
Meski Indonesia telah membayar utang
sebesar Rp1.667,7 trilyun selama 11 tahun terakhir, utang Indonesia tidak turun
justru membengkak dari jumlah utang pada tahun 2000 yakni Rp1.235 trilyun.
Bahkan jika dibandingkan jumlah utang pemerintah tahun 1998 sebesar Rp553
trilyun, jumlah utang pemerintah Indonesia tahun ini bertambah 3 kali lipat
sejak krisis moneter. Dirangkum dari JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS [Islam
Times/jurnal-ekonomi.org/on]
-----------------------------------------------
Berapa Besar Utang Pemerintah
Indonesia?
Senin, 13 Juni 2011 14:46
Pemerintah mengumumkan, per 31 Mei
2011, memiliki utang US$ 201,07 miliar atau Rp1.716 triliun dengan kurs
Rp8.537 per dolar AS. Utang ini melonjak dibandingkan posisi akhir 2010,
yang tercatat Rp1.676 triliun.
Dalam data Direktorat Jenderal
Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, utang tersebut lebih dari setengahnya
dalam bentuk Surat Berharga Negara
"Proporsi pinjaman luar negeri
sebesar 34 persen, sedangkan SBN 65,7 persen," tulis keterangan itu, Senin
13 Juni 2011.
Bila dilihat dari mata uang, utang
tersebut mayoritas dalam bentuk dolar AS, kecuali SBN rupiah yang nilainya
Rp955 triliun atau setara US$112 miliar. "Catatan ini merupakan angka
sangat sementara."
Sejak 2006, outstanding utang
per 31 Mei ini merupakan tertinggi. Pada 2006, utang pemerintah hanya US$144
miliar (Rp1.302 triliun dengan kurs saat itu Rp9.020 per dolar AS), dan pada
2007 naik lagi menjadi US$147 miliar (Rp1.389 triliun).
Sementara pada 2008 menjadi U$149
miliar (Rp1.636 triliun), pada 2009 US$169 miliar (Rp1.590 triliun), dan pada
2010 naik menjadi US$186 miliar atau Rp1.676 triliun.
5
Betapa Buruknya Pemerintahan Sekarang ini’
Kamis, 12 Januari 2012 | 1:32 WIB · 0 KomentarPada tahun 1969, seorang anak muda yang sedang gelisah, Soe Hok Gie, menulis sebuah artikel di harian Kompas. Ia memberi judul artikelnya “Betapa Tak Menariknya Pemerintah sekarang ini”. Di situ, ia menumpahkan segala kegelisahannya terhadap pemerintahan baru: Orde Baru.
Soe Hok Gie, seorang pemuda kritis, juga optimis, tiba-tiba gelisah. Ia, yang hatinya sangat dekat dengan rakyat jelata, sehari-hari mendengar kabar tentang oknum militer yang menampar rakyat biasa, tentang ngebut anak-anak ‘penggede’, atau tentang penyelundupan yang dilindungi.
Meski begitu, Soe Hok Gie masih menutup artikelnya dengan optimisme. Antara idealisme dan kenyataan memang tak selamanya ‘klop’. 32 tahun kekuasaan rejim orde baru jauh lebih buruk dari yang dibayangkan oleh Gie: korupsi merajalela, penggusuran dimana-mana, pemilu selalu dimanipulasi, dan banyak lagi. Boleh jadi, seandainya Gie bisa melihat keseluruhan rejim orde baru, mungkin ia akan menulis dengan judul “Betapa Biadadnya Pemerintahan Sekarang Ini”.
Bagaimana pula kalau Soe Hok Gie sempat menyaksikan rejim sekarang? Kita sulit membayangkan responnya ketika mendengar kabar pembantaian rakyat di Mesuji, Bima, dan berbagai tempat lainnya. Selain itu, darahnya juga akan seketika mendidih saat mendengar kabar: pelajar SMU dipenjara karena soal sandal, nenek tua dipenjara karena tiga butir kakao, dan nasib dua pemuda difabel yang dipenjara lantaran sembilan tandan pisang.
Sementara itu, di gedung parlemen dan istana negara sana, banyak koruptor yang tak tersentuh proses hukum. Lihat pula proses persidangan para koruptor kakap di pengadilan yang seolah-seolah disengaja untuk “lamban”. Nanti, kalau rakyat sudah tidak menyimak kasus itu, hakim akan menjatuhkan vonis ringan.
Hidup di bawah rejim sekarang sungguh tidak enak, bahkan sangat menakutkan. Bayangkan, gara-gara berbeda cara dalam beribadah, anda bisa dianggap sebagai ‘aliran sesat’ dan tempat ibadah anda akan dibakar. Nyawa anda pun bisa terancam. Akan tetapi, yang lebih tidak mengenakkan lagi adalah sikap abai pemerintah, seolah-olah peristiwa semacam itu ‘hal biasa’.
Soal kesejahteraan rakyat, apalagi, inilah yang paling buruk saat ini. Dulu sudah ada kaya dan miskin, tetapi jurangnya pemisahnya belum terlalu dalam. Sekarang, sejak pemerintah doyan menggunakan resep neoliberal, kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi sungguh luar biasa. Bayangkan, kekayaan 43 ribu orang terkaya di Indonesia itu setara dengan kekayaan 140 juta penduduk.
Kekayaan alam kita, yang sejak dulu dikenal sangat melimpah, tidak menjadi senjata memakmurkan rakyat. Sebagian besar kekayaan alam itu, seperti minyak, gas, batubara, tembaga, emas, nikel, bauksit, dan lain-lain, sudah berpindah tangan ke sejumlah perusahaan asing. Bahkan, demi mempermudah proses penyerahan kekayaan alam itu kepada pihak asing, raja-raja kecil di daerah pun diberi lisensi bernama “Ijin Usaha Pertambangan”. Jadinya, seperti dikatakan orang, diperkirakan 90% dari keuntungan eksplorasi SDA itu diangkut keluar negeri, sedangkan 10% sisanya masuk ke kantong penguasa.
Sudah begitu, rejim saat ini sangat doyan berutang. Terakhir, posisi utang Indonesia per September 2011 adalah Rp1.733,64 triliun. Alhasil, karena dibebani pembayaran cicilan utang, APBN tiap tahun selalu “cekak”. Anggaran untuk pembangunan dan program kesejahteraan rakyat sangat minim: anggaran untuk belanja modal hanya 17,62%, sedangkan belanja sosial hanya 6,67%.
Lebih menyebalkan lagi, rejim sekarang suka bermain popularitas dengan gaya politik pencitraan. Perhatian terhadap rakyat korban bencana, misalnya, ditunjukkan dengan aksi ‘presiden pindah ngantor’. Perhatian presiden dengan soal seni budaya ditunjukkan dengan Presiden bermain gitar dan mengeluarkan album.
Presiden SBY terlalu banyak menebar pesona, tapi minim kerja konkret. Ketika kaum tani di berbagai daerah ditembaki oleh Polisi, presiden kita tak bisa berbuat apa-apa. Ketika anak-anak negeri dipermainkan oleh hukum yang tak adil, Presiden juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak salah kemudian, ada orang yang mengatakan, “SBY orang yang berkuasa, tapi seolah tak punya kuasa.”
Seandainya Soe Hok Gie masih hidup dan melihat keadaan sekarang, entah judul apa yang diberikan kepada tulisannya. Pastinya, ia tidak cuma gelisah, tapi sangat marah dengan keadaan. Sehingga, judul tulisannya pun adalah ungkapan orang marah: “Betapa Buruknya Pemerintahan Sekarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar